Konsep Diri : Melihat Kelemahan dan Kelebihan untuk Optimalisasi Potensi Diri

image

Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri, baik itu karakter fisik, psikologis, sosial, emosional dan prestasi (Hurlock). Perkembangan konsep diri tidak Instan melainkan melalui proses belajar sepanjang hidup manusia, dan dipengaruhi oleh lingkungan. Ketika individu lahir, individu tidak memiliki pengetahuan tentang dirinya, tidak memiliki harapan-harapan yang ingin dicapainya serta tidak memiliki penilaian terhadap diri sendiri. Namun seiring dengan berjalannya waktu, individu mulai bisa membedakan antara dirinya, orang lain dan benda-benda di sekitarnya dan pada akhirnya individu mulai mengetahui siapa dirinya, apa yang diinginkan serta dapat melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri.

Konsep diri terbagi menjadi 2 macam, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. Mengenal konsep diri sejak awal membantu individu menentukan potensi diri yang dimiliki. diri dengan baik terhadap teman dan keluarga, mandiri dan bertanggung jawab. Individu yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang tahu betul tentang dirinya, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri, evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain. evaluasi terhadap dirinya menjadi lebih positif serta mampu merancang tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas. Individu yang memiliki konsep diri yang positif menghargai kemampuan fisik, menyukai penampilan diri, dapat menyesuaikan.

image

Konsep diri negatif sama dengan evaluasi diri yang negatif. Menurut Hurlock, anak yang memiliki konsep diri yang negatif akan mengembangkan penyesuaian sosial yang kurang baik, mengalami perasaan yang tidak menentu, inferioritas, menggunakan banyak mekanisme pembelaan dan memiliki level harga diri yang rendah Tidak memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang dirinya, kurang memahami siapa dirinya, apa kelebihan dan kelemahan yang dimiliki. Mengenali dan memahami konsep dirinya sejak awal membantu individu untuk.

Menggali potensi yang dimiliki dan mengembangkannya secara optimal. Apa yang harus dilakukan?

  1. Menuliskan minimal 3 (tiga) kelemahan diri
  2. Menuliskan minimal 3 (tiga) kelebihan diri

Sudah berhasil menuliskan kelemahan dan kelebihan diri? Lebih sulit mana? Kecanderungannya ke konsep diri negatif atau positif? Selanjutnya kita bisa menuliskan upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi kelemahan serta untuk mengoptimalkan kelebihan.

Tahap daur belajar (Structure Learning Experience) dalam PRA (Participatory Rural Appraisal)

image

Pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan PRA atau Participatory Rural Appraisal. PRA menjadi pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat sebagai sasaran sekaligus pelaku kegiatan. PRA tepat digunakan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat karena sasaran kegiatannya adalah orang dewasa. Orang dewasa berbeda dengan anak-anak, orang dewasa telah memiliki konsep yang lebih jelas, memiliki pengalaman yang lebih beragam. Pengalaman sebagai sumber belajar mengajarkan pada peserta untuk menemukan sendiri isi atau makna pembelajaran dari dari setiap kejadian pengalaman yang dialami. Proses pembelajaran menggunakan tahapan daur belajar yang menekankan pengalaman nyata dalam daur belajar (Structure Learning Experience). Proses dalam daur belajar tersebut adalah :

  • Mengalami; peserta melaksanakan langsung suatu aktifitas, dilibatkan bertindak atau berperilaku mengikuti suatu pola tertentu. Proses yang dilakukan peserta adalah belajar, menghayati, melihat, mengamati, atau mengatakan sesuatu. Proses pertama ini menjadi dasar bagi proses berikutnya
  • Mengungkapkan; setelah menghayati apa yang dialami, maka peserta mengungkapkan dengan menyatakan apa yang dialami, membuat kesan atas pengalaman pribadi maupun kelompoknya sesama warga belajar
  • Mengolah ; menganalisis pengalaman sendiri atau teman lalu dikaitkan dengan pengalaman lain yang mungkin mempunyai makna yang sama 
  • Menyimpulkan; warga belajar kemudian mensintetis dan menyimpulkan atau menarik teori baru.
  • Menerapkan; tahap akhir dari daur belajar adalah memutuskan dan melaksanakan tindakantindakan baru yang lebih baik berdasarkan hasil pemahaman atau pengertian baru.

Alat PRA untuk kegiatan pemberdayaan yang melibatkan partisipatif masyarakat sangat banyak. Uraian alat-alat PRA berada dalam link tersedia.

Menuju Masyarakat Berdaya

image

Proses pemberdayaan yang dilakukan oleh setiap lembaga pemberdayaan. Daya Annisa memiliki tujuan mewujudkan  masyarakat berdaya secara meluas. Berdaya dalam KBBI berarti; 1) berkekuatan, berkemampuan, bertenaga; 2) mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu atau sebagainya.

Daya Annisa berupaya mewujudkan masyarakat berdaya dengan cara meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat. Daya Annisa memberikan berbagai materi yang bertujuan meningkatkan Kecakapan Personal, Kecakapan Sosial dan Kecakapan Vokasional. Materi yang diberikan dikategorikan dalam beberapa orientasi, yaitu:

1. Orientasi Kedirian dan Kepemimpinan

2. Orientasi Kesehatan Lingkungan dan Masyarakat

3. Orientasi Gender

4. Orientasi Kewirausahaan

Sasaran kegiatan Daya Annisa adalah orang dewasa dalam masyarakat, sehingga pendekatan yang yang digunakan dalam proses pembelajaran adalan pendekatan orang dewasa atau andragogi. Dimana pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki masyarakat merupakan sumber belajar bagi orang lain.

PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT MASYARAKAT KITA

image

Apa yang terlintas dibenak kita saat mendengar kata “Pendidikan”?

Beragam jawaban muncul untuk satu pertanyaan tersebut. Beberapa jawaban yang muncul terkait pertanyaan tersebut diantaranya mahal, sekolah, ujian Nasional, pekerjaan rumah (PR), seragam, SD, SMP, SMA, SMK, Perguruan Tinggi, dan Mencari Pekerjaan.

 

Benarkah pendidikan hanya sebatas itu?

Pernahkah kita berfikir jika cakupan Pendidikan sebenarnya lebih luas dari itu?

Pendidikan berasal dari kata dasar didik, yang dalam KBBI diterjemahkan sebagai 1) proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; 2) proses, cara, perbuatan mendidik. Pendidikan merupakan hal yang dimiliki oleh setiap individu untuk peningkatan kualitas kehidupannya. Pendidikan sepanjang hayat (lifelong education) merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan bahwa proses pendidikan berlangsung selama rentang hidup manusia,  kunci utamanya adalah setiap orang mengupayakan belajar sepanjang kehidupannya.

 

Pada UU No. 20 tahun 2003 Pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal, non-formal dan informal, perbedaannya sebagai berikut:

1.    Pendidikan Formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

 

2.    Pendidikan Informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab. Pada pendidikan informal orangtua memegang peran penting sebagai pendidik, pembimbing, teladan, inovator, motivator dan pengontrol untuk membentuk kepribadian dan karakter anak/ individu.

 

3.    Pendidikan Nonformal

Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Sasaran Pendidikan nonformal adalan warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Jenis Pendidikan Nonformal meliputi Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Kepemudaan, Pendidikan Pemberdayaan Perempuan, Pendidikan Keaksaraan, Pendidikan Keterampilan Dan Pelatihan Kerja, Pendidikan Kesetaraan (Paket A, Paket B dan Paket C),  serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Lembaga yang menyelenggarakan Pendidikan Nonformal diantaranya: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Lembaga Kursus, Lembaga Pelatihan, Kelompok Belajar, Majelis Taklim, Sanggar Belajar, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembagai lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

image

Dibandingkan dengan Pendidikan Formal, pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan yang lebih fleksibel karena dapat dilaksanakan kapanpun, dimanapun dan sasaran peserta didik yang luas. Ketiga Sistem pendidikan tersebut bisa menjadi cara untuk menerapkan learning society yang berorientasi pada terwujudnya lifelong learning atau lifelong education. Pendidikan nonformal tidak hanya sekedar berhubungan dengan masyarakat miskin dan bodoh (terbelakang, buta pendidikan dasar, putus sekolah (drop out) pendidikan formal), sasaran pendidikan nonformal terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lapangan kerja, dan perubahan masyarakat terutama berkaitan dengan budaya masyarakat itu sendiri. Proses belajar dalam learning society dengan belajar mandiri untuk belajar  menjadi (learning to be), belajar melakukan sendiri (learning to do), belajar untuk memahami bukan untuk mengetahui (learning to understand), belajar hidup bersama (learning to life together) saling diajar dan membelajarkan untuk transformasi kebutuhan dan kehidupan.

Kebutuhan belajar masyarakat disesuaikan dengan kebutuhan belajar sasaran proram atau kegiatan, setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda dalam menerima pembelajaran. Kebutuhan belajar pada anak-anak tidak dapat disamakan dengan kebutuhan belajar pada orang dewasa. Oleh karena itu perlu diperhatikan prinsip-prinsip andragogy dan pedagogy dalam proses pembelajaran, sehingga proses belajar yang berlangsung sesuai dengan sasaran program.

FASILITATOR PENDIDIKAN NONFORMAL

image

Pendidikan nonformal berperan sebagai pengganti, penambah dan pelengkap dalam melayani masyarakat dengan penuh makna dan bermutu. Pendidikan nonformal sebagai bagian dari sistem pendidikan memiliki tugas sama dengan pendidikan lainnya (pendidikan formal) yakni memberikan pelayanan terbaik pendidikan terhadap masyarakat. Pemberdayaan merupakan salah satu bentuk pendidikan nonformal yang ada dalam masyarakat.

 

Upaya pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat pembelajar (learning society) dapat dilihat dari tiga sisi (Kartasasmita, 1997: 5, Ace Suryadi, 2009: 25), yakni: a) menciptakan suasana dan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Titik tolaknya adalah bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya; b) memperkuat daya atau potensi yang dimiliki, antara lain; menyangkut penyediaan berbagai masukan (input) serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat yang kurang berdaya sangat diperlukan; dan c) memberdayakan mengandung arti pula melindungi. Dalam proses pemberdayaan harus dapat dicegah yang lemah semakin lemah, tetapi diberi dorongan agar yang lemah mempunyai kekuatan. Melindungi tidak berarti mengisolasi atau menutupi diri dari interaksi dengan lingkungan baik internal maupun eksternal.

 

Proses pengembangan masyarakat tidak lepas dari peran fasilitasi. Fasilitasi berasal dari bahasa latin, facilis, yang artinya “mudah”. Fasilitasi artinya memudahkan, melancarkan. Dalam konteks pelatihan, hal ini berarti memudahkan dan melancarkan proses-proses komunikasi, tukar pikiran, dan belajar supaya tujuan tercapai. Fasilitator ialah petugas yang memainkan serangkaian peran supaya pelatihan berjalan mulus. Dalam hal ini, peran dipahami sebagai pola pelaku yang layak dan tepat bagi seorang fasilitator yang sedang bertugas.

image

Peran Fasilitator

Ø  Fasilitator memiliki peran fasilitatif dan peran diagnostik; Ia memudahkan proses komunikasi, belajar, dan mengajar dalam pelatihan dan, pada saat yang sama, mendiagnosis keadaan, situasi, dan atmosfer pelatihan dengan cermat sehingga dapat mengambil inisiatif untuk melancarkan pelaksanaan pelatihan atau sesi tertentu dalam pelatihan.

Ø  Fasilitator mengetahui proses dan pelaksanaan pelatihan secara keseluruhan.

Ø  Fasilitator dapat mengelola, mengatur, dan merangsang interaksi dan komunikasi yang melibatkan peserta dan pemberi materi, sehingga suasana sharing informasi dan pengetahuan terbina, dan motivasi bersama dapat dibangkitkan dan dipertahankan selama pelatihan berlangsung.

Ø  Fasilitator meningkatkan keterbukaan dan akurasi komunikasi dalam pelatihan, baik mengenai isu dan topik yang sedang dibahas maupun mengenai persepsi, perasaan, dan sikap-sikap para peserta. Dibidang ini, peran fasilitator bersifat nonevaliative, noncoercive, dan nindirective.

Ø  Fasilitator melakukan ”intervensi” dalam kondisi-kondisi tertentu yang bertujuan memudahkan sesi dan diskusi, bukan untuk menunjukkan betapa pintar dan hebatnya fasilitator. Misalnya: untuk menghidupkan suasana ketika sesi dan diskusi berjalan tersendat-sendat atau macet; untuk mengaitkan topik atau isu pada sesi tersebut dengan sesi sebelumnya dan yang akan datang sehingga para peserta menangkap keterkaitan antarsesi pelatihan; dan untuk mencairkan suasana.

 

Keterampilan dan Persiapan Fasilitator dalam Pendampingan/ Kegiatan Pemberdayaan:

Ø  Kemauan dan Kemampuan Mendengarkan secara Obyektif dan tanpa prasangka negatif sebelumnya

Ø  Memiliki Empati sehingga dapat melihat dan memahami permasalahan dari sudut pandang masyarakat yang didampingi. Tanpa empati, maka komunikasi yang sesungguhnya tidak dia tangkap dan kembangkan.

Ø  Memiliki Keluwesan atau kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan atau kelompok masyarakat, cara berpikirnya, cara hidupnya, dll.

Ø  Percaya diri

Ø  Obyektif: kemampuan untuk menganalisa pendapat, keberpihakan, sikap, kemampuan, motivasi, dan praduga-praduganya sendiri secara tepat.

Ø  Kebersamaan: kemampuan untuk mengembangkan komunikasi yang enak dan hangat dalam arti yang sesungguhnya dimana terdapat keterbukaan, tumbuhnya minat, hasrat, dan membuat pihak lain rela membagi pengalamannya.

Ø  Saling mendukung

Ø  Melihat saat dengan tepat

Ø  Memiliki Orientas atau kemampuan untuk mengabstraksi dan meletakkan korelasi antara data yang relevan yang ada disekitar permasalahan, issue yang muncul, harapan-harapan masyarakat, dll.

 

Fasilitator tidak boleh mengabaikan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya oleh masyarakat. Fasilitator tidak boleh merasa bahwa hanya dirinya sebagai sumber belajar utama. Sebaliknya, fasilitator diharapkan mampu menyatukan beragam pengetahuan tersebut sebagai sumber belajar bagi masyarakat lainnya dalam proses pemberdayaan.

Sumber:

2009. Daya Annisa. Modul Pembelajaran untuk Perempuan Usaha Mikro: Refleksi Pengalaman Pendampingan Kelompok Temu Suruh Daya Annisa. Yogyakarta

PEMBELAJARAN PEREMPUAN USAHA MIKRO DI BANTUL

image

Pendampingan bagi kelompok perempuan usaha mikro Daya Annisa masih dilakukan sejak pasca gempa di Bantul, DI Yogyakarta tahun 2006 lalu. Banyak tantangan dan pembelajaran yang diperoleh selama mendampingi kelompok masyarakat. Anggota dampingan Daya Annisa adalah kelompok masyarakat miskin yang memiliki kegiatan ekonomi produktif yang biasanya memiliki berbagai keterbatasan, seperti pendidikan, pemasaran dan jaringan. Terkadang masyarakat tidak terlalu memikirkan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas diri, fokus pikiran mereka adalah bagaimana menghasilkan dan mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Mendampingi masyarakat dengan karakter seperti ini tidaklah mudah, sebagai “pendatang baru” lembaga harus menyesuaikan diri dan memahami karakter yang mereka miliki secara bertahap.

Dimulai dengan mengenal diri sendiri melalui penyadaran kritis, masyarakat diajak untuk selalu memperbaiki diri. Mengelola potensi diri dan memanfaatkan peluang yang ada di sekitarnya. Kesadaran kritis yang terbentuk akan memudahkan untuk menyamakan persepsi dan mengorganisir sebuah kelompok. Kelompok yang terbentuk harus selalu dikuatkan melalui pertemuan-pertemuan rutin dalam kelompok.

Pertemuan kelompok ini sebagai wadah berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama anggota kelompok didampingi oleh fasilitator. Materi yang diberikan dalam kegiatan ini beragam disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

MODUL PEMBELAJARAN UNTUK PEREMPUAN USAHA MIKRO

image

Modul ini merupakan refleksi pengalaman pendampingan kelompok Temu Suruh (Temu Ngangsu Kawruh) Anggota Daya Annisa. Berisi tentang materi-materi yang biasanya disampaikan kepada anggota Daya Annisa.

Modul ini dibagi dalam 5 Orientasi sebagai target pembelajaran, yaitu

  1. Orientasi  Kedirian dan Kepemimpinan, berisi materi untuk pengembangan diri, diantaranya 1) Membangun kesadaran tentang potensi diri sebagai sumber daya manusia yang handal untuk membangun kehidupan yang lebih baik; Membentuk pribadi tangguh yang berkepribadian dan berwawasan luas; Membentuk sikap yang mendukung pribadi berkualitas; Mendorong terwujudnya kepemimpinan perempuan untuk diri sendiri dan masyarakat di sekitar

  2. Orientasi Kewirausahaan, diantaranya berisi tentang: 1) Bagaimana membentuk sikap mental wirausaha; 2)  Mengatasi persoalan pelaku usaha, khususnya perempuan dalam menjalankan usaha; dan 3)  Meningkatkan kecakapan dan kemampuan perempuan dalam pengelolaan usaha untuk pengembangan.

  3. Orientasi Gender dan Keperempuanan, diantaranya berisi tentang: 1) Membangun kepekaan gender; 2)  Membangun kepekaan terhadap persoalan perempuan; dan 3) Meningkatkan kepedulian tentang kesehatan reproduksi perempuan

  4. Orientasi Keluarga dan Kemasyarakatan, diantaranya berisi tentang: 1) Upaya Membentuk dan mendorong keluarga yang sehat dan harmonis; 2)  Upaya Membentuk kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan fisik dan sosial kemasyarakatan.

  5. Orientasi Kecakapan Hidup, berisi tentang contoh ketrampilan yang pernah dipraktekkan bersama kelompok dampingan.

 

Modul ini hanya salah satu buku pegangan bagi fasilitator. Artinya materi yang diberikan oleh fasilitator tidak terbatas apa yang ada didalam buku modul. Fasilitator diharapkan selalu memperbaiki diri, mengikuti isu-isu yang berkembang sehingga lebih optimal dalam mendampingi masyarakat.